![]() |
| Foto ilustrasi pedagang pasar tradisional Tosora bersuara menolak keberadaan pasar sore di Desa Tellulimpoe. |
GARDAMEDIA || WAJO - Sejumlah pedagang yang berjualan di pasar Tosora kembali menyoroti keberadaan pasar sore di Desa Tellulimpoe. Mereka menilai aktivitas pasar tersebut mengakibatkan kesenjangan antar pedagang khususnya yang berjualan dipasar resmi pemerintah.
Menurut para pedagang, keberadaan pasar sore dinilai menciptakan persaingan yang tidak sehat karena menarik pembeli menjauh dari pasar pemerintah. Akibatnya, omzet pedagang tradisional mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
"Pasar swasta tersebut berpotensi merusak tatanan ekosistem pasar tradisional yang selama ini dibangun pemerintah sebagai pusat perekonomian rakyat, ucap salah satu pedagang saat ditemui di halaman kantor Bupati Wajo. Senin, (27/4/26).
Pedagang berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk meninjau legalitas pasar sore tersebut serta melakukan penertiban jika ditemukan pelanggaran aturan.
"Kami mengharapkan adanya perlindungan terhadap pasar tradisional resmi agar tetap menjadi pusat perdagangan yang sehat, tertib, dan mampu menopang perekonomian masyarakat kecil di tengah persaingan usaha yang semakin ketat," harapnya.
Berdasarkan data yang diterima media ini, pedagang pasar tradisional Tosora mogok membayar retribusi sejak bulan Januari hingga April 2026. Hal ini diperkirakan berlanjut selama tidak ada solusi bagi pedagang pasar Tosora sehingga berpotensi menghambat pemasukan pendapatan asli daerah (PAD).
Kondisi ini memunculkan keresahan di kalangan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas jual beli di pasar tradisional resmi.
Diketahui, aktivitas pasar tradisional Tosora dijadwalkan setiap hari rabu dan minggu, sementara pasar sore beroperasi lebih awal yakni pada selasa dan sabtu sore.
