gardamedia.online

Warga Soroti Kumuhnya Kawasan Wisata Rumah Adat Atakkae, Disporapar Wajo Berdalih Minim Anggaran

Kawasan Rumah Adat Atakkae Wajo

GARDAMEDIA || WAJO – Kondisi kawasan wisata Rumah Adat Atakkae di Kabupaten Wajo menuai keluhan dari masyarakat. Sejumlah warga menyoroti kondisi lingkungan yang dinilai kumuh dan kurang terawat, padahal pungutan retribusi terhadap pengunjung disebut tetap berjalan sebagaimana mestinya.

https://www.gardamedia.online/2026/06/bupati-wajo-hadiri-pelantikan-pengurus.html

Keluhan tersebut mencuat karena kawasan yang menjadi salah satu ikon wisata budaya di Kabupaten Wajo itu dinilai tidak mencerminkan wajah destinasi yang layak dikunjungi. Sampah yang berserakan, rumput yang tidak terawat, akses jalan yang rusak dan berlumpur serta sejumlah fasilitas yang memerlukan perhatian menjadi sorotan warga.

"Retribusi terus dipungut, tetapi kondisi kawasan wisata justru terlihat kumuh. Seharusnya ada perhatian serius agar tempat ini tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung," ungkap (ANR) salah seorang warga yang minta namanya diinisialkan. Rabu, (10/06/26)

Masyarakat berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait segera melakukan pembenahan dan pemeliharaan secara berkala demi menjaga citra destinasi wisata tersebut.


Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Wajo selaku leading sektor pengelolaan pariwisata pun menjadi sorotan. Instansi tersebut dinilai perlu meningkatkan pengawasan dan penataan kawasan Rumah Adat Atakkae agar keberadaan objek wisata bersejarah itu tetap terjaga dan mampu menarik minat wisatawan.

Selain menjadi aset budaya yang memiliki nilai sejarah, Rumah Adat Atakkae juga diharapkan dapat menjadi destinasi unggulan yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung.

https://www.gardamedia.online/2026/06/wujudkan-program-pisota-dlh-pemkab-wajo.html

Warga pun mendesak agar pengelolaan kawasan wisata tersebut tidak hanya berfokus pada penerimaan retribusi, tetapi juga diimbangi dengan perawatan dan penataan lingkungan yang memadai sehingga ikon kebanggaan masyarakat Wajo itu dapat tampil lebih bersih, asri, dan representatif.

Sementara, Plt Kadisporapar Wajo, Taufik Razak saat ditemui diruang kerjanya tak menampik hal tersebut. Menurutnya, penyebab utama kumuhnya dikawasan wisata itu dikarenakan minimnya anggaran.

"Secara kasat mata memang sedikit kumuh, tapi kami terus melakukan pembenahan secara bertahap," katanya

https://www.gardamedia.online/2026/06/dasco-sebut-pertemuan-chatib-basri.html

"Kemarin kami bersama dinas PU juga telah turun meninjau lokasi untuk penataan, termasuk akses jalan diperlukan adanya drainase," tandasnya

أحدث أقدم