gardamedia.online

MTQ ke XI 2026 Tingkat Kabupaten Polman Diterpa Isu Peserta Bayangan.

Panggung MTQ ke-XI 2026 Tingkat Kabupaten Polewali Mandar. 

GARDAMEDIA || POLMAN – Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XI 2026 tingkat Kabupaten Polewali Mandar (Polman) di Kecamatan Tinambung yang diikuti 16 kecamatan resmi ditutup, Rabu malam, 15 April 2026. 

‎Ajang yang digadang-gadang sebagai wahana pembinaan generasi Qur’ani itu menempatkan Kecamatan Campalagian sebagai juara umum, disusul Kecamatan Luyo di posisi kedua dan tuan rumah Tinambung di peringkat ketiga.

‎Namun di balik gemerlap podium juara, sejumlah kalangan menilai capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masing-masing kecamatan.

‎Isu yang mencuat adalah dugaan penggunaan peserta dari luar kecamatan untuk memperkuat kontingen. Praktik yang kerap disebut sebagai “impor peserta” ini dinilai mereduksi esensi MTQ sebagai ajang pembinaan berbasis kecamatan.

‎“Kalau peserta yang tampil bukan asli dari kecamatan tersebut, maka juara yang diraih tidak benar-benar mencerminkan kemampuan kecamatan itu sendiri,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

‎Fenomena ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pola serupa disebut kerap terjadi dalam berbagai ajang keagamaan, termasuk MTQ. Kecamatan dengan sumber daya terbatas diduga mengambil jalan pintas dengan mendatangkan peserta dari luar demi mengejar prestasi.

‎Akibatnya, makna kompetisi yang seharusnya menjadi ruang pembinaan dan pengembangan potensi lokal menjadi kabur. Prestasi yang diraih cenderung bersifat simbolik, bukan representasi nyata kualitas masyarakat setempat.

‎Lebih lanjutnya, kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada motivasi generasi muda di tingkat kecamatan. Ketika kesempatan tampil diambil oleh peserta dari luar, potensi lokal justru terpinggirkan.

‎“MTQ seharusnya menjadi ajang untuk melahirkan qori dan qoriah dari kecamatan itu sendiri, bukan sekadar mengejar gelar juara,” kata sumber tersebut.

‎Sejumlah pihak pun mendorong agar pemerintah daerah bersama panitia pelaksana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme seleksi peserta kedepannya.

‎Regulasi yang lebih ketat dinilai perlu diterapkan, termasuk memastikan bahwa peserta benar-benar berasal dan berdomisili di kecamatan yang diwakilinya. Hal ini penting untuk menjaga integritas kompetisi sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan di tingkat lokal.

‎Jika tidak, MTQ berisiko kehilangan makna substansialnya. Alih-alih menjadi ruang pembinaan, ajang ini justru bisa berubah menjadi arena kompetisi semata yang sarat kepentingan prestise.

‎Ke depan, publik berharap MTQ di Polewali Mandar tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi benar-benar menjadi wadah pembinaan yang jujur, adil, dan mencerminkan kualitas SDM di setiap kecamatan. (Redaksi)

Lebih baru Lebih lama